Tentang Madu Murni

"Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, "Buatlah sarang-sarang di
bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin
manusia," kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan
tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah
itu keluar minuman (
Madu) yang bermacam-macam warnanya, di
dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada
yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi
orang-orang yang memikirkan." (QS. An-Nahl: 68-69)
Madu merupakan sumber makanan penting yang disediakan Allah untuk manusia melalui serangga kecil ini?
Madu
tersusun atas beberapa senyawa gula seperti glukosa dan fruktosa serta
sejumlah mineral seperti magnesium, kalium, kalsium, natrium, klor,
belerang, besi, dan fosfat.
Madu juga mengandung vitamin B1, B2,
C, B6 dan B3 yang komposisinya berubah-ubah sesuai dengan kualitas
nektar dan serbuk sari. Di samping itu, dalam
Madu terdapat pula sejumlah kecil tembaga, yodium, dan seng, serta beberapa jenis hormon.
Sebagaimana firman Allah dalam Al Quran,
Madu adalah "obat bagi
manusia". Fakta ilmiah ini telah dibenarkan oleh para ilmuwan yang
bertemu pada Konferensi Apikultur Sedunia (World Apiculture Conference)
yang diselenggarakan pada tanggal 20-26 September 1993 di Cina.
Konferensi tersebut membahas pengobatan dengan menggunakan ramuan yang
berasal dari
Madu. Para ilmuwan Amerika mengatakan bahwa
Madu,
royal jelly, serbuk sari, dan propolis dapat mengobati berbagai
penyakit. Seorang dokter Rumania mengatakan bahwa ia mengujikan
Madu
untuk pengobatan pasien katarak, dan 2002 dari 2094 pasiennya sembuh
total. Para dokter Polandia juga menyatakan dalam konferensi tersebut
bahwa resin lebah dapat membantu penyembuhan banyak penyakit seperti
wasir, masalah kulit, penyakit ginekologis, dan berbagai penyakit
lainnya.
Dewasa ini, apikultur dan produk lebah telah membuka cabang penelitian
baru di negara-negara yang sudah maju dalam hal ilmu pengetahuan.
Manfaat
Madu lainnya dapat dijelaskan di bawah ini:
Mudah dicerna : Karena molekul gula pada
Madu dapat berubah menjadi gula lain (misalnya fruktosa menjadi glukosa),
Madu mudah dicerna oleh perut yang paling sensitif sekalipun, walau memiliki kandungan asam yang tinggi.
Madu membantu ginjal dan usus untuk berfungsi lebih baik.
Rendah kalori : Kualitas
Madu lain adalah, jika dibandingkan dengan jumlah gula yang sama, kandungan kalori
Madu 40% lebih rendah. Walau memberi energi yang besar,
Madu tidak menambah berat badan.
Berdifusi lebih cepat melalui darah : Jika dicampur dengan air hangat,
Madu
dapat berdifusi ke dalam darah dalam waktu tujuh menit. Molekul gula
bebasnya membuat otak berfungsi lebih baik karena otak merupakan
pengonsumsi gula terbesar.
Membantu pembentukan darah :
Madu menyediakan banyak energi yang dibutuhkan tubuh untuk pembentukan darah. Lebih jauh lagi, ia membantu pembersihan darah.
Madu berpengaruh positif dalam mengatur dan membantu peredaran darah.
Madu juga berfungsi sebagai pelindung terhadap masalah pembuluh kapiler dan arteriosklerosis.
Membunuh bakteri : Sifat
Madu yang membunuh bakteri disebut "efek inhibisi". Penelitian tentang
Madu
menunjukkan bahwa sifat ini meningkat dua kali lipat bila diencerkan
dengan air. Sungguh menarik bahwa lebah yang baru lahir dalam koloni
diberi makan
Madu encer oleh lebah-lebah yang bertanggung jawab merawat mereka-seolah mereka tahu kemampuan
Madu ini.
Royal jelly : Royal jelly adalah zat yang diproduksi lebah
pekerja di dalam sarang. Zat bergizi tinggi ini mengandung gula,
protein, lemak, dan berbagai vitamin. Royal jelly digunakan untuk
menanggulangi masalah-masalah yang disebabkan kekurangan jaringan atau
kelemahan tubuh.
Jelaslah bahwa
Madu, yang diproduksi jauh melebihi jumlah
kebutuhan lebah, dibuat untuk kepentingan manusia. Dan telah jelas pula
bahwa lebah tidak dapat melakukan tugas-tugas yang sedemikian sulit
"dengan sendirinya".
Dari sekian banyak produk
Madu yang beredar di pasaran, baru beberapa produk
Madu
yang berasal dari lebah hutan (Apis dorsata). Padahal Indonesia
terkenal dengan hutan hujan tropis yang terbentang dari Sumatera -
Papua. Tumbuh-tumbuhan obat yang seringkali ditemukan di dalam hutan
hujan tropis menjadi salah satu sumber pakan bagi lebah hutan tersebut,
sebelum akhirnya diproses menjadi
Madu di dalam sarang mereka. Dengan kearifan lokal
Madu
tersebut di panen secara lestari dan higienis oleh komunitas adat
masyarakat sekitar hutan untuk kemudian kita nikmati bersama. Selain
untuk kesehatan dan stamina kita,
Madu hutan juga mempunyai aspek
lingkungan dan sosial ekonomi yang sangat penting bagi hutan dan
komunitas masyarakat yang tinggal di sekitar hutan.
Meskipun
Madu dikeluarkan dari perut lebah disebutkan di
Surat An Nahl Ayat 69 .Dari perut lebah itu keluar minuman yang
bermacam-macam warnanya namun ternyata
Madu ditempatkan di tempat khusus dalam perut lebah yang disebut perut
Madu (honey stomach, honey sac atau crop) yang terpisah dari perut besar lebah (large intestine atau stomach). Di dalam perut
Madu tersebutlah proses penguraian gula komplek (disakarida) diubah menjadi gula sederhana atau mono sakarida.
Sering terjadi kesalah pahaman di masyarakat seolah
Madu adalah kotoran lebah karena berasal dari perut lebah.
Madu
bukanlah kotoran lebah meskipun dalam prosesnya melalui perut lebah.
Honey sac yang berada di perut lebah sebenarnya lebih merupakan tempat
penyimpanan khusus untuk
Madu selama perjalanan lebah pekerja
dari tempat pengambilan nectar sampai ke sarangnya. Selanjutnya nectar
yang mayoritas berupa gula disakarida dalam bentuk sukrosa mengalami
proses fisika dan kimia sekaligus selama perjalanannya di perut lebah
dan dilanjutkan di sarang lebah.
Nectar yang diambil dari bunga-bunga tanaman mengandung gula dan kadar air yang tinggi (sekitar 60%), untuk menjadi
Madu
kadar air ini harus diturunkan secara significant menjadi sekitar 20 %
atau bahkan lebih rendah lagi. Proses fisika penurunan kadar air ini
mulai terjadi pada saat lebah menjulurkan lidahnya (proboscis) untuk
memindahkan
Madu sedikit demi sedikit dari dalam perut
Madu
(honey sac) ke sarang lebah. Didalam sarang lebah kadar air terus
diturunkan lebih lanjut dengan laju penurunan yang lebih tinggi melalui
putaran sayap-sayap lebah yang terus menerus mensirkulasikan hawa
hangat ke seluruh ruangan dalam sarang lebah.
Keajaiban Madu
Dilaporkan, stek batang pohon yang dicelupkan dalam
Madu akan lebih cepat berakar dan tumbuh lebih baik dibandingkan dengan stek yang ditanam tanpa perlakuan
Madu.
Madu juga mengandung zat antibiotik. Kandungan ini merupakan salah satu keunikan
Madu.
Penelitian Peter C. Molan (1992), peneliti dari Departement of
Biological Sciences, University of Waikoto, di Hamilton, Selandia Baru
membuktikan,
Madu mengandung zat antibiotik yang aktif melawan
serangan berbagai patogen penyebab penyakit. Beberapa penyakit infeksi
berbagai patogen yang dapat "disembuhkan" dan dihambat dengan (minum)
Madu
secara teratur antara lain penyakit lambung dan saluran pencernaan;
penyakit kulit, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), batuk dan demam;
penyakit jantung, hati, dan paru; penyakit-penyakit yang dapat
mengganggu mata, telinga, dan syaraf.
Berdasarkan hasil penelitian Kamaruddin (1997), peneliti dari
Departement of Biochemistry, Faculty of Medicine, Universiti of Malaya,
di Kualalumpur, paling tidak ada empat faktor yang bertanggung jawab
terhadap aktivitas antibakteri pada
Madu. Pertama, kadar gula
Madu yang tinggi akan menghambat pertumbuhan bakteri sehingga bakteri tersebut tidak dapat hidup dan berkembang.
Kedua, tingkat keasaman
Madu yang tinggi (pH 3.65) akan
mengurangi pertumbuhan dan daya hidupnya sehingga bakteri tersebut
merana atau mati. Ketiga, adanya senyawa radikal hidrogen peroksida yang
bersifat dapat membunuh mikroorganisme patogen. Dan faktor keempat,
adanya senyawa organik yang bersifat antibakteri. Senyawa organik
tersebut tipenya bermacam-macam. Yang telah teridentifikasi antara lain
seperti polyphenol, flavonoid, dan glikosida.
Para ilmuwan Amerika mengatakan bahwa
Madu, royal jelly, serbuk
sari, dan propolis dapat mengobati berbagai penyakit. Seorang dokter
Rumania mengatakan bahwa ia mengujikan
Madu untuk pengobatan
pasien katarak, dan 2002 dari 2094 pasiennya sembuh total. Para dokter
Polandia juga menyatakan dalam konferensi tersebut bahwa resin lebah
dapat membantu penyembuhan banyak penyakit seperti wasir, masalah kulit,
penyakit ginekologis, dan berbagai penyakit lainnya.
Salah satu peneliti yang sangat mendalami masalah
Madu ini adalah
Peter Nolan seorang ahli riset biokimia dari The University of Waikato
– New Zealand. Peter Nolan mempunyai cerita favorit mengenai
keandalan
Madu sebagai antibiotic ini, yaitu berdasarkan
pengalaman langsung yang dialami seorang remaja Inggris berusia 20
tahun yang luka di tangannya tidak mempan diobati oleh berbagai jenis
antibiotic. Remaja ini kemudian mendengar tentang pengobatan dengan
Madu dan minta dokternya untuk mengobati dengan
Madu. Karena berbagai cara telah dilakukan, maka team dokterpun tidak keberatan untuk mencoba cara lain dengan
Madu ini. Setelah pengobatan dengan
Madu berjalan selama satu bulan, ternyata luka di tangan remaja tersebut benar-benar sembuh dan tangannya dapat berfungsi kembali.
Madu ternyata dapat menumpas spesies microbial yang resistance terhadap antibiotic buatan manusia. Penggunaan
Madu sebagai antibiotic juga memiliki beberapa keunggulan antara lain :
Pengobatan dengan
Madu tidak menimbulkan inflamasi
Madu menyebabkan rasa sakit berkurang
Madu membersihkan infeksi
Madu menghilangkan bau pada luka
Penyembuhan berjalan cepat tanpa menimbulkan bekas luka
Madu bersifat antimicrobial yang dapat mencegah microba tumbuh
Tidak menimbulkan rasa sakit pada saat penggantian pembalut karena tidak lengket
Mempunyai stimulatory effect yang mempercepat tumbuhnya jaringan tubuh kembali
Hasil riset di universitas tersebut juga membuktikan
Madu lebih effective dari antibiotic buatan manusia seperti silver sulfadiazine.
Berikut adalah artikel menarik yang dikutip dari
Journal of Family Practice :
Diceritakan di dalam journal tersebut seorang laki-laki yang berusia 79
tahun dan menderita diabetes golongan 2 yang sudah parah. Segala bentuk
pengobatan modern telah ditempuh bahkan lelaki ini selama 14 bulan
telah lima kali masuk rumah sakit dan 4 kali menjalani operasi. Biaya
yang dikeluarkan telah mencapai US$ 390,000,- (Sekitar 3.5 milyar
rupiah). Dengan segala upaya tersebut luka yang menganga di dua tempat
sebesar 8 cm x 5 cm dan 3 cm x 3 cm tetap tidak sembuh meskipun telah
diberi antibiotic terbaik yang ada. Bahkan lelaki tersebut telah
kehilangan dua jarinya.
Lebih buruk lagi, dua team dokter yang menangani pasien tersebut
berusaha meyakinkan pasien bahwa ia perlu diamputasi kakinya mulai lutut
ke bawah karena apabila tidak maka nyawanya terancam. Pasien menolak
amputasi tersebut dan sebelum dia mendapatkan informasi tentang
Madu, pasien ini kehilangan satu jari lagi. Setelah mendapatkan informasi tentang
Madu, pasien ini mulai membeli
Madu
di super market – mengoleskan pada luka-lukanya dan meninggalkan
pengobatan dengan antibiotic lainnya. Karena pengobatan sekarang hanya
dengan
Madu maka biayanya menjadi jauh lebih murah. Dua minggu setelah menjalani pengobatan dengan
Madu,
jaringan di tempat lukan mulai hidup kembali. Dalam rentang waktu 6
– 12 bulan, pasien tersebut telah sepenuhnya pulih kembali dan
lukanya tidak kambuh kembali.
Kuman Tidak Mampu Melawan Madu
Ini merupakan judul sebuah artikel yang dimuat majalah Dis Lancet Infect
edisi Februari 2003 yang ditulis oleh seorang Dr. Dixon, ia
mengatakan,
Madu sangat kuat menguasai kuman. Sehingga tidak ada satu kuman pun yang sanggup berhadapan dengan
Madu.
Dr Dixon, merupakan seorang dari sekian banyak para ilmuwan yang diberi
anugerah oleh Allah dapat mengkaji manfaat maju. Padahal, khasiat
Madu sudah diungkapkan oleh Sang Khalik melalui kitabnya: “Dari perut lebah itu keluar minuman (
Madu)
yang bermacam-macam warnanya. Di dalamnya terdapat obat yang
menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya, pada yang demikian itu,
benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang
memikirkannya.†(An-Nahl 69-69)
Yang menarik, penderita kencing manis, yang oleh para dokter diminta
untuk tidak mengkonsumsi makanan atau minuman yang manis, termasuk
Madu. Karena, dianggap bisa menaikkan kadar gula dalam tubuh. Ternyata, menurut penelitian, anjuran itu tidak berlaku.
Madu, justru mampu menurunkan kadar gula di dalam darah orang yang terkena sakit gula. Beberapa penemuan membuktikan bahwa di dalam
Madu
terdapat unsur oksidasi yang menjadi pengurai gula di dalam darah
lebih mudah, yang tidak membuat kadar gula semakin bertambah tinggi.
Madu yang kaya dengan vitamin B1, B5 dan G, justru sangat diperlukan bagi penderita kencing manis. Karena,
Madu mengandung sekitar 100 unsur berbeda yang dianggap sangat urgen bagi tubuh manusia, khususnya bagi penderita diabtesi tersebut.
Seorang filsuf dan penulis Yunani, Athenaeus, menyatakan bahwa siapa saja yang rajin mengonsumsi
Madu setiap hari akan bebas dari penyakit selama hidupnya. Dia tidak mengada-ada karena di dalam
Madu memang termuat rupa-rupa nutrisi yang unik dan potensial untuk memelihara kesehatan dan kecantikan.
Madu
memiliki kekuatan menyembuhkan yang hebat. Berbagai nutrisi yang
dikandungnya telah lama dimanfaatkan untuk mengatasi luka bakar,
menambah stamina, menaikkan gairah seksual, bahkan dapat mencegah
kanker. Cairan berwarna keemasan ini pun merupakan perawat keindahan
kulit yang bermutu.
Seorang ilmuwan dari Universitas Illinois di Urbana, Amerika Serikat,
menulis dalam Journal of Apicultural Research bahwa khasiat
masing-masing
Madu bisa saja berbeda, namun semua jenis
Madu
pasti mengandung antioksidan, seperti vitamin E dan vitamin C, yang
sama kadarnya. Antioksidan tersebut diyakini mampu mencegah terjadinya
kanker, penyakit jantung, dan penyakit lainnya.
Secara lebih rinci Prof. DR. H. Muhilal, pakar gizi dari Pusat
Penelitian dan Pengembangan Gizi Bogor, menguraikan tentang kandungan
gizi
Madu. Asam amino, karbohidrat, protein, beberapa jenis vitamin serta mineral adalah zat gizi dalam
Madu yang mudah diserap sel-sel tubuh. Asam amino bebas dalam
Madu
mampu membantu penyembuhan penyakit, juga sebagai bahan pembentukan
neurotransmitter atau senyawa yang berperan dalam mengoptimalkan fungsi
otak.
Madu juga mengandung zat antibiotik yang berguna untuk mengalahkan kuman patogen penyebab penyakit infeksi.
Karbohidrat
Madu termasuk tipe sederhana. Rata-rata komposisinya
adalah 17,1 persen air; 82,4 persen karbohidrat total; 0,5 persen
protein, asam amino, vitamin, dan mineral. Karbohidrat tersebut utamanya
terdiri dari 38,5 persen fruktosa dan 31 persen glukosa. Sisanya, 12,9
persen karbohidrat yang terbuat dari maltose, sukrosa, dan gula lain.
Sebagai karbohidrat, satu sendok makan
Madu dapat memasok energi sebanyak 64 kalori.
Berkat kekayaan zat gizinya, tak heran jika
Madu sejak zaman baheula digunakan sebagai obat. Bangsa Mesir kuno misalnya sudah memanfaatkan
Madu
untuk mengobati luka bakar dan luka akibat benda tajam. Dalam
penelitian ribuan tahun kemudian ditemukan sifat antiseptik ringan dan
antimikrobial dari
Madu. Karena dapat menghambat pertumbuhan bakteri itulah,
Madu mampu mempercepat penyembuhan luka.
“Sifat antibakteri dari
Madu membantu mengatasi infeksi pada perlukaan dan aksi
anti inflamasinya
dapat mengurangi nyeri serta meningkatkan sirkulasi yang berpengaruh
pada proses penyembuhan,†kata Dr. Peter Molan dari University of
Waikato, New Zealand, melalui situs kesehatan.
Madu juga
merangsang tumbuhnya jaringan baru, sehingga selain mempercepat
penyembuhan juga mengurangi timbulnya parut atau bekas luka pada kulit.
Sebuah studi terbaru menemukan kandungan antioksidan di dalam cairan
mujarab tersebut. Itu artinya
Madu ampuh untuk menangkal radikal
bebas. Kita tahu bahwa radikal bebas menjadi penyebab terjadinya
berbagai penyakit yang sulit dikontrol, salah satunya kanker.
Temuan tersebut mendorong para peneliti untuk mencari tahu lebih jauh tentang zat-zat antikanker yang dikandung
Madu. Diharapkan berbagai penelitian terkini akan semakin mengukuhkan khasiat
Madu yang sangat potensial untuk menghentikan penyebaran penyakit ganas. Reputasi
Madu
untuk mengatasi gangguan pernapasan masih tetap diakui. Terutama untuk
mengusir dahak atau cairan yang menyumbat saluran pernapasan.
Masyarakat Yunani dan Romawi percaya khasiat
Madu sebagai dekongestan (pelega hidung saat pilek).
Madu juga memiliki sifat sedatif (penenang) yang ringan. Maka itu masyarakat tradisional sering membubuhkan
Madu pada segelas susu untuk diminum sebelum tidur. Minuman ini membuat mereka rileks dan bisa segera tidur nyenyak.
Hampir semua makanan manis akan merangsang otak untuk memproduksi
endorfin atau pembunuh nyeri alami di dalam tubuh. Tak terkecuali rasa
manis alami yang dihasilkan
Madu. Berkaitan dengan kadar fruktosanya yang tinggi, membuat
Madu mempunyai efek laksatif atau pencahar yang ringan.
Efek lain dari
Madu yang dipercaya sejak lama, yakni sebagai aprodisiak atau pembangkit gairah seksual. Istilah honeymoon (bulan
Madu) berasal dari tradisi kuno masyarakat Eropa Utara, ketika pasangan pengantin baru diharuskan mengonsumsi
Madu dan mead (minuman sejenis wine yang dibuat dari fermentasi
Madu) yang diyakini bersifat aprodisiak tadi.
Madu
juga memiliki aktivitas sebagai disinfektan ringan, sehingga mampu
menyembuhkan radang tenggorokan. Cairan manis ini juga bisa meningkatkan
produksi saliva atau cairan ludah yang dapat membantu mengatasi
tenggorokan yang kering atau teriritasi. Para penyanyi opera pun gemar
memanfaatkan
Madu untuk memelihara kondisi tenggorokan mereka,
supaya tetap bisa melantunkan lagu-lagu merdu. Segelas air hangat
dicampur lemon dan
Madu merupakan ramuan tradisional yang biasa digunakan untuk mengikis radang tenggorokan.
Jika Anda ingin awet muda, tetap segar dan bugar walau sudah berusia tua, selalu makan
Madu secara rutin. Demikian pesan pionir ilmu kedokteran modern sekaligus filsuf Islam,
Dr. Ibnu Sina. Kaum perempuan di Mesir, Yunani, dan Rusia memang sudah memanfaatkan
Madu
sejak lama untuk memelihara kecantikan kulit muka agar tetap cantik
dan bersih. Juga untuk menghilangkan noda dan bintik-bintik hitam
(hiperpigmentasi), serta mencegah keriput. Ramuan berupa 100 gram
Madu dicampur 25 ml alkohol dan 25 ml air bersih bisa dicoba untuk merawat keindahan kulit Anda.
Rasa
Madu sangat dipengaruhi oleh jenis bunga yang dikunjungi lebah untuk diambil nektarnya (bahan pembuat
Madu). Saat ini bisa dijumpai berbagai
Madu, seperti
Madu randu,
Madu klengkeng,
Madu asam,
Madu mangga,
Madu apel,
Madu ceri,
Madu jeruk,
Madu peer, dan banyak lagi. Apabila bunga yang dihinggapi lebah memiliki zat-zat racun, kemungkinan besar
Madunya pun beracun. Lebah yang mengambil nektar dari bunga pohon rhododendron misalnya, bisa memproduksi
Madu beracun. Bila dikonsumsi,
Madu ini bisa menyebabkan kelumpuhan.
Beberapa tanaman, selain rhododendron, mengandung senyawa beracun dalam
nektarnya, antara lain azalea, andromeda, agave, atropa, datura,
euphorbia, kalmia, gelsemium, dan melaleuca.
Madu beracun ini biasanya merupakan
Madu liar. Saat ini
Madu
sudah banyak diproduksi yang tentunya mengembil jenis-jenis tanaman
yang selain tidak beracun juga bermanfaat bagi kesehatan. Salah satu
keunikan dari
Madu, meski memiliki rasa manis, tidak begitu berbahaya dibanding gula.
Meski efeknya ringan dalam menaikkan gula darah dibanding sumber
karbohidrat lain, bagi diabetesi dianjurkan untuk tetap berkonsultasi ke
dokter bila mengonsumsinya. Manis alami
Madu telah digunakan di
Inggris hingga pertengahan abad ke-17, untuk menambah nikmat rasa
makanan dan minuman. Sayang kebiasaan ini kemudian berubah ketika orang
mulai memproduksi gula. Butiran putih ini dianggap lebih berkelas dan
hanya golongan berstatus sosial tinggilah yang mampu menjangkaunya.
Namun, di akhir abad ke-17 gula semakin meluas pemakaiannya, tak hanya
terbatas pada kalangan atas. Keluarga kerajaan pun kembali pada
kebiasaan semula, yakni menyantap roti yang diolesi
Madu berkualitas tinggi tentunya. Tak ada salahnya bila kita mencontoh gaya hidup ala Ratu Inggris, sarapan
Madu setiap hari.
Pola Kehidupan Madu
Lebah
Madu membuat tempat penyimpanan
Madu dengan bentuk
heksagonal. Sebuah bentuk penyimpanan yang paling efektif dibandingkan
dengan bentuk geometris lain. Lebah menggunakan bentuk yang memungkinkan
mereka menyimpan
Madu dalam jumlah maksimal dengan menggunakan
material yang paling sedikit. Para ahli matematika merasa kagum ketika
mengetahui perhitungan lebah yang sangat cermat. Aspek lain yang
mengagumkan adalah cara komunikasi antar lebah yang sulit untuk
dipercaya. Setelah menemukan sumber makanan, lebah pe
Madu yang bertugas mencari bunga untuk pembuatan
Madu
terbang lurus ke sarangnya. Ia memberitahukan kepada lebah-lebah yang
lain arah sudut dan jarak sumber makanan dari sarang dengan sebuah
tarian khusus. Setelah memperhatikan dengan seksama isyarat gerak dalam
tarian tersebut, akhirnya lebah-lebah yang lainnya mengetahui posisi
sumber makanan tersebut dan mampu menemukannya tanpa kesulitan.
Lebah menggunakan cara yang sangat menarik ketika membangun sarang. Mereka memulai membangun sel-sel tempat penyimpanan
Madu
dari sudut-sudut yang berbeda, seterusnya hingga pada akhirnya mereka
bertemu di tengah. Setelah pekerjaan usai, tidak nampak adanya
ketidakserasian ataupun tambal sulam pada sel-sel tersebut. Manusia tak
mampu membuat perancangan yang sempurna ini tanpa perhitungan geometris
yang rumit; akan tetapi lebah melakukannya dengan sangat mudah.
Fenomena ini membuktikan bahwa lebah diberi petunjuk melalui
“ilham†dari Allah swt sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nahl
ayat 68 di atas.
Sejak jutaan tahun yang lalu lebah telah menghasilkan
Madu
sepuluh kali lebih banyak dari yang mereka butuhkan. Satu-satunya alasan
mengapa binatang yang melakukan segala perhitungan secara terinci ini
memproduksi
Madu secara berlebihan adalah agar manusia dapat memperoleh manfaat dari
Madu yang mengandung “obat bagi manusia†tersebut. Allah menyatakan tugas lebah ini dalam Al-Qur'an:
Dari perut lebah itu keluar minuman (Madu) yang
bermacam-macam warnanya, didalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi
manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan. (QS. An-Nahl, 16: 69)
Lebah Madu : Sang Arsitek dan Penari Ulung
Di antara makhluk paling memukau di alam ini adalah lebah
Madu
, makhluk mungil yang menghidangkan kita sebuah minuman yang sempurna, yaitu
Madu
yang dihasilkannya.
Lebih Hebat dari Ahli Matematika
Lebah
Madu
hidup sebagai koloni dalam sarang yang mereka bangun dengan sangat
teliti. Dalam tiap sarang terdapat ribuan kantung berbentuk heksagonal
atau segi enam yang dibuat untuk menyimpan
Madu
. Tapi, pernahkah kita berpikir, mengapa mereka membuat kantung-kantung dengan bentuk heksagonal?
Para ahli matematika mencari jawaban atas pertanyaan ini, dan setelah
melakukan perhitungan yang panjang dihasilkanlah jawaban yang menarik!
Cara terbaik membangun gudang simpanan dengan kapasitas terbesar dan
menggunakan bahan bangunan sesedikit mungkin adalah dengan membuat
dinding berbentuk heksagonal.
Mari kita bandingkan dengan bentuk-bentuk yang lain. Andaikan lebah
membangun kantung-kantung penyimpan tersebut dalam bentuk tabung, atau
seperti prisma segitiga, maka akan terbentuk celah kosong di antara
kantung satu dan lainnya, dan lebih sedikit
Madu
tersimpan di dalamnya. Kantung
Madu
berbentuk segitiga atau persegi bisa saja dibuat tanpa meninggalkan
celah kosong. Tapi di sini, ahli matematika menyadari satu hal
terpenting. Dari semua bentuk geometris tersebut, yang memiliki keliling
paling kecil adalah heksagonal.
Karena alasan inilah, walaupun bentuk-bentuk tersebut menutupi luasan
areal yang sama, material yang diperlukan untuk membangun bentuk
heksagonal lebih sedikit dibandingkan dengan persegi atau segitiga.
Singkatnya, suatu kantung heksagonal adalah bentuk terbaik untuk
memperoleh kapasitas simpan terbesar, dengan bahan baku lilin dalam
jumlah paling sedikit.
Hal lain yang mengagumkan tentang lebah
Madu
ini adalah kerjasama di antara mereka dalam membangun kantung-kantung
Madu
ini. Bila seseorang mengamati sarang lebah yang telah jadi, mungkin
ia berpikir bahwa rumah tersebut terbangun sebagai blok tunggal.
Padahal sebenarnya, lebah-lebah memulai membangun rumahnya dari titik
yang berbeda-beda. Ratusan lebah menyusun rumahnya dari tiga atau empat
titik awal yang berbeda. Mereka melanjutkan penyusunan bangunan
tersebut sampai bertemu di tengah-tengah. Tidak ada kesalahan
sedikitpun pada tempat di mana mereka bertemu.
Lebah juga menghitung besar sudut antara rongga satu dengan lainnya
pada saat membangun rumahnya. Suatu rongga dengan rongga di belakangnya
selalu dibangun dengan kemiringan tiga belas derajat dari bidang
datar. Dengan begitu, kedua sisi rongga berada pada posisi miring ke
atas. Kemiringan ini mencegah
Madu
agar tidak mengalir keluar dan tumpah.
Berkomunikasi dengan Menari
Untuk mengisi kantung-kantung ini dengan
Madu
, lebah harus mengumpulkan nektar, yakni cairan manis pada bunga.
Ini adalah tugas yang sangat berat. Penelitian ilmiah terkini
mengungkapkan bahwa untuk memproduksi setengah kilogram
Madu
, lebah harus mengunjungi sekitar empat juta kuntum bunga.
Mendapatkan bunga-bunga ini pun adalah pekerjaan berat tersendiri. Oleh
karenanya, koloni lebah memiliki sejumlah lebah pemandu dan lebah
pencari makan.
Bagaimana lebah pencari makan menemukan bunga di wilayah yang begitu
luas dibanding ukuran tubuh mereka? Bagaimana mereka menemukan jalan
kembali ke sarang tanpa tersesat? Bagaimana mereka memberitahu
lebah-lebah lain tentang arah sumber bunga? Tatkala kita berusaha
menjawab beragam pertanyaan ini, kita akan sampai pada kenyataan yang
sungguh menakjubkan.
Ketika seekor lebah telah menemukan sumber bunga, maka tugas
berikutnya dari lebah pemandu ini adalah untuk kembali ke sarang dan
memberitahu lebah-lebah lain tentang lokasi di mana ia menemukan
kumpulan bunga tersebut. Segera setelah lebah pemandu kembali ke
sarangnya, ia mulai memberitahukan lokasi sumber bunga yang ia temukan
kepada lebah-lebah lain. Pertama, ia membiarkan lebah-lebah lain
mencicipi sedikit nektar yang ia kumpulkan dari bunga untuk memberitahu
mereka tentang kualitas nektar tersebut. Lalu ia memulai tugas
utamanya, yakni menjelaskan arah menuju sumber bunga. Ia melakukan ini
dengan cara yang sangat unik, yaitu dengan tarian. Lebah pemandu mulai
menari di tengah-tengah sarang dengan menggoyangkan badannya. Sulit
dipercaya, tapi gerakan dalam tarian ini memberikan lebah-lebah lain
informasi tentang lokasi sumber bunga. Misalnya, jika tarian berupa
garis lurus ke arah bagian atas sarang, maka sumber makanan tepat
mengarah ke arah matahari. Jika bunga berada pada arah sebaliknya,
lebah akan membuat garis ke arah tersebut. Jika lebah menari ke arah
kanan, maka ini menunjukkan bahwa sumber bunga berada tepat sembilan
puluh derajat ke arah kanan.
Tetapi ada satu pertanyaan, lebah menjelaskan arah tersebut
berdasarkan posisi matahari, padahal posisi matahari terus berubah.
Setiap empat menit matahari bergeser satu derajat ke barat, faktor yang
mungkin menurut anggapan orang diabaikan lebah dalam penentuan arah
ini. Tapi, pengamatan menunjukkan bahwa lebah-lebah ini juga
memperhitungkan pergerakan matahari. Ketika lebah pemandu memberitahu
arah lokasi bunga, dalam setiap empat menit, sudut yang mereka
beritahukan juga bertambah satu derajat ke barat. Berkat perhitungan
yang luar biasa ini, para lebah tidak pernah tersesat.
Lebah pemandu tak hanya menunjukkan arah sumber bunga, tetapi juga
jarak ke tempat tersebut. Lama waktu tarian dan jumlah getaran memberi
petunjuk kepada lebah-lebah lain tentang jarak ini secara akurat.
Mereka membawa perbekalan sari-sari makanan yang sekedar cukup untuk
menempuh jarak ini, dan kemudian memulai perjalanan.
Perilaku mengagumkan dari para lebah ini telah diuji dalam sebuah
penelitian di California. Dalam penelitian ini, tiga wadah berisi air
gula diletakkan di tiga tempat yang berbeda. Sesaat kemudian,
lebah-lebah pemandu menemukan sumber makanan tersebut. Lebah pemandu
yang mendatangi wadah pertama diberi tanda titik; yang mendatangi wadah
kedua ditandai dengan garis, dan yang mendatangi wadah ketiga diberi
tanda silang. Beberapa menit kemudian, lebah-lebah dalam sarang tampak
mengamati dengan cermat para lebah pemandu ini. Para ilmuwan lalu
memberi tanda titik pada lebah-lebah yang mengamati lebah pemandu
bertanda titik, dan demikian halnya, mereka juga memberi lebah-lebah
lain tanda yang sama dengan yang ada pada lebah pemandu yang mereka
amati. Beberapa menit kemudian, lebah-lebah bertanda titik mendatangi
wadah pertama, yang bertanda garis tiba di wadah kedua dan yang bertanda
silang di wadah ketiga.
Jadi, terbukti bahwa lebah-lebah dalam sarang menemukan arah
berdasarkan informasi yang sebelumnya telah disampaikan oleh
lebah-lebah pemandu.
Segala fakta ini hendaknya direnungkan dengan seksama. Dari mana
lebah-lebah memperoleh kemampuan berorganisasi yang menakjubkan?
Bagaimana seekor serangga mungil yang tak memiliki kecerdasan atau
sarana berpikir mampu bertugas sebagai pencari makanan? Bagaimana ia
dapat berpikir untuk mencari sumber makanan dan kemudian
memberitahukannya kepada rekan-rekan sesarangnya? Bahkan jika ia
dianggap mampu memikirkannya, bagaimana ia dapat menciptakan tarian
untuk memberitahu yang lain tentang lokasi dan jarak sumber makanan?
Bagaimana lebah-lebah dalam sarang mampu memahami arti gerakan dan
getaran rumit dari lebah-lebah pemandu ? Teori Evolusi Darwin yang
mengklaim bahwa kehidupan di bumi terjadi secara kebetulan, tak mampu
menjawab beragam pertanyaan ini. Segala keahlian khusus lebah ini
menunjukkan bahwa Penciptanya telah memberikan semua sifat ini kepada
mereka.